Misteri rezeki
MISTERI REZEKI
...Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.
Yah...kadang ada saja manusia yang malah berpendapatan besar,masih saja merasa kurang sampai mencari tambahan di luar,kadang "ngobyek" Yang belum tentu kehalalannya dan melalaikan pekerjaan utamanya.
bukankah Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.
Alkisah,
Ada SESEORANG datang kepada Imam Syafii mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberitahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.
Namun anehnya, Imam Syafii justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafii sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.
Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafii mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafii memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafii dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafii dan berterima kasih atas nasihatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?
Imam Syafii menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercampur dengannya. Lalu Imam Syafii membacakan sebuah syair:
Kita kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
Pastikan, pekerjaan anda senilai atau bahkan melebihi gaji yang anda terima.
Pastikan, karya anda senilai atau bahkan melebihi upah yang anda dapatkan
Rezeki itu tidak seperti ilmu matematika...yang bisa di hitung dengan logika.
Kita tidak bisa berhitung bahwa rezeki yang banyak akan membuat kita bisa mencukupi semua kebutuhan kita.
Dalam hal lain,
Kadang adapula yang sudah rajin ibadah masih saja tidak berkecukupan...
sudah ibadah rajin sholat 5 waktu di tambah sunah, dukha, tahajud dan amalan lain yang kebanyakan orang itu berkata bisa mempermudah jalannya rezeki , tapi ...tetap saja rezeki nya serrret.....
Coba evaluasi kembali niatnya..mngkn niatnya tidak konsisten, alias macem-macem. Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan sholehnya.
Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia.
Evaluasi kembali,apakah setelah aktivitas ritual ibadah langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,dalam bekerja maupun dalam hubungan sesama manusia dan sebagainya.
akan aneh kalau makin rajin beribadah, tapi melalaikan hutang sedngkan ia mampu...smpai memutuskan silaturahmi itu berarti memutuskan rezeki.
Aneh juga kalau rajin ibadah tapi makin rajin menghina, gampang menuduh, selalu curiga.
Aneh, jika makin ibadah tapi makin kencang rasa dalam hati: “saya lebih baik dari yang lain”!.
Aneh.....Karena “aku lebih baik dari yang lain”, itu bukan manhaj-nya Nabi, melainkan manhajnya Iblis –laknatullah- yang mengatakan “ana khirun minhu”.
Mestinya orang yang makin rajin ibadahnya, akan nampak sikap positif yang menterjemah dalam kehidupan dan berdampak sosial baik kepada sesama.
Ini hanya sekedar Untuk memupuk kepercayaan diri bahwa hidup berkecukupan itu tidak tergantung seberapa besar gaji kita, tetapi sangat terkait dengan berkah yang Allah taburkan dalam setiap penghasilan kita.
Yaitu rezeki yang diperoleh dari cara yang benar atau halalan thoyiban. Indikatornya rezeki yang baik adalah, bertambah nilai manfaatnya, cukup untuk kebutuhan, menjadikan hati tenang dan bahagia. Misalnya dapat duit sebulan cuma sejuta....mahi kumaha?
Tpi ada saja yang ngasih makanan ke rumah. anaknya sehat dan nggak minta aneh-aneh...,walaupun ada kebutuhan yang terduga,setidaknya ada orang yang bersedia meminjamkan uangnya,bukankah itu juga rezeki!?
dan ada lagi hal yang tidak terduga oleh akal logika manusia.
Dan perlu diketahui rezeki itu misteri yang siapapun tidak bisa memastikanya, karena itu merupakan hak prerogatif allah, allah memberikan karuniaanya kepada yang Ia kehendaki.
selfremendir//kulubbalitung
"Hanya sekedar pengingat,untuk tulisan sebagian copy/paste"
Komentar
Posting Komentar